SOSIAL BUDAYA||ARTIKEL

PENDIDIKAN PANCASILA

Written by Fat Haryanto. Posted in Sosial Budaya

Pada saat gerakan reformasi berhasil menumbangkan rezim Orde Baru (Orba), Pancasila sebagai ideologi negara seakan lenyap hilang bersama sang rejim. Pancasila seakan bagian yang tak terpisahkan dari rejim itu sendiri, Padahal Pancasila sebagai ideologi negara secara substansi bertentangan dengan aksi politik Orba. Pancasila dijadikan indoktrinasi melalui pendidikan yang diselenggarakan pada saat itu. Pancasila seharusnya tidak menjadi alat indoktrinasi, namun harus dijadikan ideologi bagi masyarakat dalambentuk yang praktis.

Jika kita bercermin pada pendidikan Pancasila semasa Orde Baru, maka Pancasila menjadi alat kepentingan politik penguasa orde baru. Karenanya pengajaran terhadap Pancasila jauh dari nilai-nilai edukatif dan interpretatif, Pancasila diajarkan secara indoktrinasi jauh bahkan bertentangan dari nilai Pancasila itu sendiri.

Dalam prakteknya Pancasila hanya menjadi alat pemukul bagi pemerintah untuk menghantam lawan-lawan politiknya. Pancasila menjadi ‘mantra’ penguasa yang selalu didendangkan dimanapun dan pada siapapun, sehingga kata Pancasila meminjam istilah Yudi Latif, menjadi inflasi, saking seringnya didendangkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Pancasila yang merupakan gentleman agreeman, antar semua komponen anak bangsa, kini kembali jadi perbincangan di tengah masyarakat. Masyarakat kini kembali sadar, bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, namun mempunyai nilai-nilai yang mampu merekatkan bangsa Indonesia. Karenanya tak berlebihan kalau Pancasila kembali diajarkan kepada peserta didik di seluruh tanah air.

Pendidikan yang akan diberikan pada peserta didik harus berbeda dengan pendidikan pada masa lalu. Pancasila sebagai nilai yang akan diajarkan pada siswa baik pada tingkat dasar, menengah maupun Tinggi, jangan disamakan seperti mengajarkan mata pelajaran lain. Pancasila dengan segala isinya bukan hanya untuk konsumsi kognitif, namun unsur afektif dan motorik perlu menjadi perhatian yang tidak kalah pentingnya.

Pendidikan Pancasila dalam pengajarannya harus dilihat sebagai pendidikan karakter, karenanya perlakuan dalam pembelajaran Pancasila tidak seperti mata pelajaran lainnya. Dalam pendidikan Pancasila peserta didik diajarkan bukan hanya untuk tahu, namun juga harus bersikap dan mengamalkan Pancasila. Dengan demikian penilaian terhadap Pancasila mengandung unsur kognitif, afektif dan motorik.

 

Pandangan Terhadap Pancasila

Kelahiran Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Gagasan Pancasila yang disampaikan Soekarno merupakan jawaban terhadap pertanyaan Dr Radjiman Wedyodiningrat, Ketua BPUPKI, tentang apa dasar negara Indonesia yang akan dibentuk.

Seperti pengakuan Bung Karno sehari sebelum menyampaikan pemikirannya, Bung Karno sangat risau dan gelisah, sebab apa yang akan disampaikannya dalam sidang BPUPKI, bukanlah sesuatu yang mudah, sebab akan menyangkut masa depan bangsa dan negara.

Seperti dikutip Yudi Latif (2011:12-14) dari buku Bung Karno, sehari sebelum menyampaikan pikirannya Bung Karno mengatakan sebagai berikut;

Saya keluar di malam yang sunyi itu dan saya menengadahkan wajah saya ke langit, dan saya melihat bintang gemerlapan, ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu. Dan disinilah saya merasa kecilnya manusia, disitulah saya merasa dhaifnya aku ini, disitulah aku merasa pertanggungjawaban yang amat berat dan besar yang diletakan di atas pundak saya, oleh karena keesokan harinya saya harus mengemukakan usul saya tentang hal dasar apa Dasar Negara Merdeka harus memakai.

 

Selanjutnya Bung Karno menjelaskan bahwa dirinya berdo’a kepada yang Maha Kuasa untuk diberikan petunjuk dalam menghadapi persoalan di sidang BPUPKI. Dan Bung Karno pun mengatakan sebagai berikut;

Saya merasa mendapat Ilham, Ilham yangberkata: Galilah apa yang hendak engkau jawabkan itu dari Bumi Indonesia sendiri. Malam itu aku menggali, menggali dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali di dalam khayalku, apa yang terpendam dalam bumi Indonesia ini, agar supaya sebagai hasil dari penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang. Kita harus menggali sedalam-dalamnya di dalam jiwa masyarakat kita sendiri …..kalau kita mau memasukan elemen-elemen yang tidak ada di dalam jiwa Indonesia, tidak mungkin untuk dijadikan dasar untuk duduk diatasnya (ibid.) .

 

Melalui perdebatan yang sangat panjang dan melelahkan, maka lahirlah Pancasila. Tak berlebihan kalau Mahfud MD, dalam bukunya Perdebatan Hukum Tatanegara, Pasca Amandemen Konstitusi, berpendapat bahwa Pancasila adalah dasar dan ideology Negara yang merupakan modus Vivendi (kesepakatan luhur) bangsa Indonesia yang sulit atau (mungkin) tak bisa digantikan. Pancasila sangat cocok dengan realitas bangsa Indonesia yang plural dan Pancasila menjadi tempat bertemunya kompromi berbagai kepentingan yang semula mungkin saling bertentangan secara diametral.

Pancasila merupakan konsep Prismatik yakni konsep yang mengambil segi-segi baik dari dua konsep yang bertentangan yang kemudian disatukan sebagai konsep tersendiri sehingga selalu dapat diaktualkan dengan kenyataan masyarakat Indonesia dan setiap perkebangannya. Negara Pancasila bukan Negara agama, karena Negara agama hanya berdasarkan diri pada satu agama tertentu, tetapi Negara Pancasila juga bukan Negara sekuler, karena Negara sekuler sama sekali tidak mau terlibat dalam urusan agama. Negera Pancasila adalah sebuah religious nation state yakni sebuah negara kebangsaan yang religious  yang melindungi dan memfasilitasi berkembangnya semua agama yang dipeluk oleh rakyatnya, tanpa membedakan besarnya jumlah pemeluk masing-masing.

Kembali ke pendidikan Pancasila, jika kita telaah secara seksama apa yang disampaikan oleh Bung Karno sesuatu hal yang sangat penting. Bahwa kelahiran Pancasila bukan hanya dari produksi kognitif, namun mengandung juga afektif dan juga motorik. Perenungan, dialog dan bangunnya tengah malam, kemudian dialog dengan Sang  Pencipta menunjukan upaya maksimal dari kognitif, afektif dan motorik.

Bertitik tolak dari pemaparan di atas, melihat perkembangan masyarakat yang semakin tercabik-cabik oleh berbagai hal, maka pendidikan Pancasila menjadi sesuatu yang mendesak. Pendidikan Pancasila jangan diartikan sebagai indoktrinasi penguasa terhadap rakyatnya, namun pendidikan Pancasila lebih bermakna pendidikan bersama semua komponen anak bangsa.

Pendidikan Pancasila bukan hanya untuk peserta didik di bangku sekolah, namun Pancasila untuk semua komponen anak bangsa, mulai dari penguasa hingga rakyat jelata. Peserta didik di bangku sekolah mempelajari Pancasila silabus, sementara pejabat negara memberikan contoh hidup sesuai dengan Pancasila. Hidup yang bersih tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme. Tanpa contoh yang benar, Pancasila hanya akan menjadi macan kertas, tapi kosong dari makna. Pancasila sebagai ideologi negara harus hidup di tengah-tengah masyarakat dengan bukti yang kongkrit, hidup bersama masyarakatnya.

 

Ditulis oleh

Dr. Hj. Reni Marlinawati

Anggota Komisi X DPR RI, Ketua F-PPP