Reni Marlinawati dan Kisah Jilbabnya

Written by Rahmat Putra. Posted in Liputan Media

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Saat ini busana muslim telah berkembang pesat dengan berbagai variannya. Kaum hawa bebas memakai busana muslim kapanpun dan dalam momen apapun. Dari yang sekadar memakai kerudung konvensional sampai yang dalam bentuk jilbab atau hijab dengan berbagai modelnya.

Salah satu tokoh perempuan yang selalu tampil cantik mengenakan jilbab adalah Dr. Hj. Reni Marlinawati, anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kesempatan apapun di muka publik, Reni selalu tampil aktif dengan jilbabnya. Cuma, presidium Majelis Nasional KAHMI ini mengaku hanya sebagai pemakai jilbab 'konvensional'.

"Ya jilbab saya ya gini-gini aja, nggak mengikuti yang modern dan neko-neko biar praktis," ujar Reni kepada TeropongSenayan.

Reni berdalih, dengan jilbab yang sederhana dan simpel itu, ia bisa bergerak cepat melaksanakan semua aktivitas.

"Maklum sering ada kegiatan atau pekerjaan mendadak, kalau pakai jilbab yang ribet dan harus dandan segala mana bisa saya bisa mempersiapkannya sambil lari-lari?" papar Reni.

Sebagai salah satu petinggi partai Islam, Reni lebih sering memakai jilbab warna hijau. Begitu juga dengan busana lain yang membalut tubuhnya banyak yang berwarna. Maklum PPP adalah partai Islam yang identik dengan warna hijau.

Reni sudah memakai kerudung sejak usia 12 tahun, saat ia belajar di Madrasah Tsanawiyah atau MTS (setingkat SMP). Pada saat itulah, 'perjuangan' memakai kerudung benar-benar terasa karena ada semacam respon negatif dari lingkungannya di kampung halamannya di Sukabumi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi pemakaian jilbab, Reni memakai rok yang panjang sampai menutup mata kaki. Nah tak jarang Reni mendapat komentar tak simpatik dari cowo-cowok.

”Saya sering ditanya dengan sinis oleh cowok, Mbak mau balapan karung ya?” cerita Reni saat bersama sejumlah hijaber memberikan testimoni tentang trend berhijab di kalangan selebriti dan politisi di Jakarta, Jumat (3/7/2015). Namun, ledekan-ledekan dari temen-teman pria itu tak menyurutkan Reni untuk mengenakan jilbab sampai saat ini.

Reni mengungkapkan, saat ini kaum muslimah di Indonesia patut bersyukur karena tak adalagi hambatan politis maupun budaya untuk memakai jilbab. Dulu memang sempat ada sekolah negeri di Jakarta yang melarang siswinya memakai seragam sekolah model jilbab. Akan tetapi kini sekolah telah memberikan kebebasan yang luas bagi para siswanya yang memakai seragam dengan menutup hampir seluruh auratnya.

Reni mengaku mendapat banyak manfaat dari jilbab dan busana muslim yang dipakainya. Pertama, kata Reni, dengan berbusana muslim ia telah memenuhi syariat untuk menutup aurat. Kedua, ia merasa nyaman beraktivitas karena tak khawatir berhadapan dengan banyak orang.

"Simpelnya, kita tutup semua yang terlarang dilihat umum dan hanya untuk suami tubuh kita," papar Reni setengah agak bercanda namun serius.

Hal terpenting, lanjut Reni, dengan berbusana muslim yang tertutup orang lain, terutama pria akan segan dan sopan.

"Jadi berbusana muslim itu bermanfaat secara etika, estetika, dan keamanan diri," pungkas Reni yang ternyata jago menanyi dan menyukai lagi 'Cinta yang Tulus' karya Gito Rollies itu. (mnx)

Sumber: http://www.teropongsenayan.com/13644-reni-marlinawati-dan-kisah-jilbabnya