POLITIK||ARTIKEL

Sarung Jokowi dan Mbah Maemun

Written by Fat Haryanto. Posted in Politik

Presiden Jokowi mungkin termasuk salah seorang presiden yang paling sering mengenakan sarung. Dalam keseharian di istana Merdeka dan Bogor, misalnya, Jokowi sering pakai sarung. Bahkan ketika santai di Kebun Raya Bogor, Jokowi sering memakai sarung. Apalagi kalau beliau bertemu dengan ulama dan santri, niscaya pakai sarung.

Jika Presiden Abdurrahman Wahid rajin memakai sarung, itu hal biasa. Dari “sono”nya! Gus Dur seorang ulama, dari kecil sudah nyantri, cucu pendiri Nahdhatul Ulama. Sedangkan Jokowi?

Jokowi adalah orang Jawa tulen. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia dan intelektual menyebutnya “orang abangan”. Jokowi – meski kini Presiden RI – tapi keturunan wong cilik, sehingga di masyarakat Jawa disebut bronjotnya orang abangan.

Orang abangan biasanya suka berbusana ala Jawa. Pakai baju blangkon atau lurik khas Jawa. Bawahannya bukan sarung, tapi kain batik Jawa yang cara memakainya juga khas Jawa. Unik dan sulit.

Saya senang sekali dengan Jokowi yang sering memakai sarung – sebuah simbol pakaian santri. Ini artinya, Jokowi mengakui bahwa kaum santri adalah bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia. Dalam pidato penutupan Mukernas PPP 2017, Presiden Jokowi mengungkapkan peran para ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Tanpa peran besar ulama,” ujar Presiden, “tidak ada kemerdekaan Indonesia.” Para ulama adalah pejuang terdepan dalam perang pembebasan Indonesia dari penjajahan asing, tambahnya.

Clifford Geertz membagi orang Jawa dalam tiga kategori. Abangan, priyayi, dan santri. Masing-masing punya identitas. Abangan adalah kelompok wong cilik yang dekat dengan mistisisme. Priyayi adalah kelompok bangsawan, raja, atau pamongpraja yang budayanya Hinduism. Sedangkan santri adalah kelompok Islam.

Geertz memisahkan ketiga kelompok ini secara kultural dan ketiganya dianggap sulit menyatu. Seperti air dan minyak. Tapi apa yang terjadi belakangan? Ternyata, ketiga kategori versi Geertz ini bisa menyatu dan saling berinteraksi secara positif.

M Bambang Pranowo dalam disertasinya yang berjudul Creating Islamic Tradition in Rural Java (Monash University, 1991) menyatakan pengelompokan Geertz dalam “abangan, priyayi, dan santri” kini sudah mencair seiring proses islamisasi yang makin menguat di pusat-pusat kebudayaan Jawa seperti Yogya dan Solo. Ciri budaya Hinduisme yang melekat dalam tradisi abangan dan priyayi, tulis Bambang, kini telah memudar dan beralih pada ciri santriisme yang Islam.

MC Ricklef, Indonesianis dari Australian National University (ANU) menyatakan: Setelah 600 tahun Islam masuk ke Jawa, identitas kultural Jawa yang Hinduisme kini berangsur mengalami transformasi menuju identitas Islamisme. Akulturasi Hinduisme dan Islamisme pada budaya Jawa yang dirintis Wali Songo kini makin menguat pada Islamisme. Saat ini, tulis Ricklefs, identitas Jawa bukan lagi berbasis Hinduisme, tapi sudah menjadi Islamisme.

Dari perspektif itulah, saya melihat makna sarungannya Jokowi ketika hadir di Mukernas PPP. Saya bahkan mendengar dari seluruh pidato Pak Jokowi di Mukernas: Beliau berminat besar untuk memperbaiki akhlak bangsa Indonesia melalui penguatan pendidikan agama, khususnya di madrasah dan pondok pesantren.

Menurut Presiden, perubahan dunia akibat kemajuan teknologi sangat dahsyat. Hari ini kita melihat, kata Presiden, dunia sudah terhubung melalui internet secara instan. Membagi informasi, megirim uang, menanyakan sesuatu, dan mendengarkan berita apa pun – tinggal klik di gadget. Semuanya tersaji serba instan. Kondisi ini mempengaruhi perilaku manusia. Akhlak dan moralitas mana yang kompatibel dengan gaya hidup serba instan tersebut.

Generasi muda saat ini, ungkap Jokowi, masuk dalam kategori Generasi Y (Gen-Y). Gen-Y, tambah Presiden, mempunyai paradigma tentang moralitas yang berbeda dengan generasi kita sekarang, yang umumnya masih berada dalam lingkup Generasi X (Gen-X). 
Gen-Y (usia 16-35 tahun) lazim disebut Generasi Milenial. Manusia Gen-Y tak butuh media cetak. Tinggal search berita di smartaphone, sesuai keinginan, berita itu tersaji secara instan dengan aneka pilihan. Manusia Gen-Y tahu apa yang mereka mau. Jokowi serius memikirkan bagaimana mengatasi problem kenakalan remaja dan akhlak manusia Gen-Y tersebut. 

Pendidikan umum yang jumlah jam pelajaran agamanya sangat sedikit dan disajikan secara konvensional, ujar Jokowi, niscaya tak akan mampu mengatasi problem moral dan akhlak Gen-Y. Maka, mau tidak mau, disukai atau tidak, kita harus kembali kepada agama. Yaitu agama dengan pendekatan yang kompatibel dengan obsesi Gen-Y. Yaitu, keberagamaan yang terbuka, menjunjung keadilan, kemanusiaan, kedamaian, dan cinta kasih. Semuanya, kata Presiden, ada dalam dunia pesantren. 
Presiden Jokowi menyatakan, pendidikan di madrasah dan pesantren akan menjadi penyelamat Gen-Y yang saat ini sudah mulai “menguasai” dunia kita. Tantangannya: bagaimana pendidikan agama di madrasah dan pesantren yang telah terbukti berhasil mendidik moral dan akhlak murid-muridnya itu bisa mengadaptasi obsesi Gen-Y?

Dari perspektif itulah kita melihat “sarung” yang disukai Presiden Jokowi. Sarung tidak hanya simbol kultural Indonesia yang sejati, tapi juga simbol keseriusan kepemimpinan nasional untuk mengatasi gejolak moral dan akhlak pada Gen-Y dengan pendidikan agama model madrasah dan pesantren.

Seperti pernyataan Jokowi – Mbah Maemun Zubair (Ketua Dewan Syuro PPP) yang selalu pakai sarung adalah orang tua kita. Orang tua – pengasuh pesantren yang jadi panutan dan teladan – yang perspektifnya jauh ke depan. Yaitu mendidik Gen-Y melalui pendekatan kultural, intelektual, dan spiritual di madrasah dan pondok pesantren.(*)