POLITIK||ARTIKEL

TNI, Rakyat dan Silat

Written by Fat Haryanto. Posted in Politik

Bersama Rakyat TNI Kuat itulah tema yang diusung pada Hari Ulang Tahun TNI yang ke 72, yang diselenggarakan di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten. Tema yang mengingatkan kita bahwa sesungguhnya TNI berasal dari rakyat. TNI yang hari ini ada, tidak bisa dilepaskan dari tradisi perlawanan terhadap penjajah Asing. Dengan kata lain TNI tak bisa dipisahkan dari akar sosiologisnya yaitu rakyat itu sendiri.

Selain temanya kembali ke rakyat, HUT TNI ke 72 terasa istimewa, sebab TNI memperagakan seni beladiri yang merupakan warisan para leluhur bangsa yaitu Silat. Silat tentu saja bukan hanya warisan para leluhur, namun juga, Silat merupakan simbol beladiri perlawanan rakyat terhadap penjajah asing. Tidak kurang dari 1.800 prajurit TNI memperagakan Silat secara dahsyat.

Pertanyaan yang menggelitik adalah mengapa peragaan silat menjadi sesuatu yang istimewa.

Tugas utama TNI adalah menjaga pertahanan negara. Sejauh ini, TNI bukan hanya mempertahankan kedaulatan negara secara fisik, namun juga TNI mempertahankan tumpah darah bangsa ini secara non fisik yaitu berupaya mempertahankan budaya bangsa.

Dalam mempertahankan negara secara fisik, TNI dalam HUT kali ini mendemonstrasikan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang tercanggih, dari semua angkatan (AD, AL dan AU) dan juga cara penggunaannya.

Sedangkan, dalam hal mempertahankan negara non fisik berupa budaya, prajurit TNI juga memperagakan bela diri Silat, yang merupakan alutsista non fisik, warisan para pejuang, tanpa harus malu dicibir orang lain. Hal ini perlu penulis berikan apresiasi setinggi-tingginya.
Pertunjukan silat yang diperagakan prajurit TNI terasa istimewa, sebab selama ini Pencak Silat sebagai olahraga warisan nenek moyang dan simbol perlawanan terhadap penjajah, seakan sudah mulai dilupakan banyak pihak. Dalam HUT kali ini, Silat sebagai belahan jiwa dari rakyat telah diperagakan oleh prajurit TNI secara dahsyat.

Silat Alat Perjuangan
Tak diragukan lagi Silat merupakan bela diri yang berasal dari nenek moyang Indonesia. Seperti dipaparkan oleh Draeger Donn F dalam bukunya Weapons and fighting arts of Indonesia, para leluhur Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam. Karena itu mereka menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitarnya, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang.

Sejauh ini perkembangan Silat yang bisa dipelajari dari artefak yang ada, bela diri Silat berkembang sejak abad ke-7 masehi. Karena itu, kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya dan Pajajaran mempunyai prajurit-prajurit tangguh yang mempunyai kemampuan bela diri Silat yang luar biasa.Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain.

Jika kita mau jujur terhadap perjuangan bangsa ini, maka perjuangan nenek moyang kita yang mempertahankan setiap jengkal dari Republik ini tidak bisa dipisahkan dari beladiri Silat.

 Penjajah Eropa dengan segala kedigjayaan senjata dan bela diri Eropa, harus bertekuk lutut di kaki para pejuang.

Sebagai budaya bangsa, beladiri Pencak Silat merata dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan dengan ciri khas gerakan masing-masing pada setiap daerah. Tak berlebihan kalau kita sebagai bangsa Indonesia mengklaim kepada UNESCO bahwa Pencak Silat adalah warisan non benda dari budaya Indonesia.

Bukan hanya Eropa yang pernah dibuat pontang panting, demikian juga dengan penjajah Jepang. Jepang dengan persenjataannya yang luar biasa mampu mengalahkan sekutu, kemudian merangsak menjajah Indonesia. Penjajahan Jepang selama 3,5 tahun juga dihadapi para pejuang kemerdekaan dengan beladiri Silat. Lagi-lagi Jepangpun harus tunggang langgang dari Indonesia.

Pada masa agresi Belanda pertama maupun kedua, para pejuang dengan gagah berani melawan agresor dengan senjata seadanya dan juga beladiri Silat. Agresor yang dipimpin penjajah Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia, mendapat perlawanan dari rakyat dengan beladiri Silat, akhirnya harus pulang kampung kembali ke Eropa.

Kini Silat telah mendunia, namun sayang banyak anak bangsa sendiri justru yang tak mempelajarinya baik filosofi maupun gerakannya. Hal ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk mengembalikan beladiri Silat sebagai salah satu identitas jati diri bangsa.

TNI telah memulainya dengan memperagakan beladiri Pencak Silat dengan sangat dahsyat. Semoga ini jadi momentum, untuk kita menjaga budaya luhur bangsa ini dengan mempelajari dan mengembangkan Silat menjadi budaya dunia.

Bersama Rakyat TNI Kuat, bukan hanya slogan semata, namun sebuah bukti nyata bahwa TNI dengan gagah dan bangga memperagakan beladiri budaya bangsa. Karena itu, TNI, Rakyat dan Silat, merupakan tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Selamat HUT TNI Ke 72, BERSAMA RAKYAT TNI KUAT.
Dr. Hj. Reni Marlinawati
(Ketua FPPP, anggota Komisi X DPR RI)