PENDIDIKAN||ARTIKEL

Siapakah Guru Terbaik Itu?

Written by Fat Haryanto. Posted in Pendidikan

Siapakah Guru Terbaik Itu?

Merenungi Hari Guru

Siapakah Guru Terbaik Itu?

Oleh Dr. Reni Marlinawati

Ketua Poksi Pendidikan Komisi X /Ketua Fraksi PPP DPR RI

 Guru! Siapakah engkau?

Masihkah bangsa ini punya guru?  Guru yang baik dan guru yang jadi teladan anak? Pertanyaan itu sering muncul di tengah suasana “memperihatinkan” perihal guru!

Ada guru yang memukul anak didiknya; ada guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya; ada guru yang menyuruh siswanya menyontek di ujian nasional; ada guru yang dipukul muridnya sendiri. Ada guru yang menyulap dana BOS. Ada guru menjual nilai rapor.  Macam-macamlah!

Semua itu menggambarkan satu fakta:  bahwa pendidikan berada pada ambang kegagalan  paling dasar. Lalu siapa yang salah? Guru? Please, jangan salahkan guru sebagai satu-satunya tertuduh atas semua contoh kasus di atas.

 Mungkin kita perlu merunut kehidupan manusia dari awal sekali. Siapakah sebetulnya anak-anak itu? Lalu, siapakah guru-guru itu?  Ya..ya...mereka adalah anak-anak dari ibunya. Jika demikian, siapa pendidik paling awal dan paling utama untuk semua anak-anak itu? Jawabnya: ibu. Ibu dari anak-anak itu.  Ibu adalah guru sejati anak-anak. Jika ibu gagal mendidik anak-anaknya, itu berarti 90% anak-anak itu akan gagal dalam pendidikan selanjutnya. 

 Begitu besar peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa ibu adalah guru pertama untuk anak.  Raden Ajeng Kartini pun menyatakan hal itu.

 Melalui suratnya kepada Prof. Anton dan istrinya, RA Kartini menulis: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan. Bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin, pendidikan  akan besar sekali pengaruhnya bagi kaum perempuan. Dengan pendidikan, perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam kepadanya:  menjadi ibu, pendidik, dan guru manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Islam memandang ibu sebagai sosok termulia dalam keluarga.  Ada cerita menarik yang tertuang dalam kisah Rasul.  Konon, seseorang datang menghadap Rasulullah SAW seraya bertanya.

  “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang harus paling saya hormati?”

Nabi menjawab: “Ibumu.”

“Lalu siapa?”

“Ibumu.”

“Lalu siapa lagi?”

“Ibumu.”

“Lalu siapa lagi?”

 “Bapakmu!” 

 Sungguh mulia seorang ibu, sampai Rasulullah memerintahkan kita menghormati ibu sebelum ayah. Kenapa? Karena begitu banyak hal yang sudah dilakukan oleh seorang ibu, seperti mengandung, menyusui, mengasuh, mendidik, dan membimbing anak manusia setiap saat.

 Itulah  sebabnya, ibu disebut seorang pendidik sejati untuk anaknya.

Proses pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu, guru sejati itu,  sudah dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Seorang ibu yang terbiasa mendengar murottal (tilawah Alqur’an), misalnya, Insya Allah hal tersebut dapat didengar oleh sang bayi. Dan bayi itu kelak akan menyintai Alqur’an.

 Emosi dan watak seorang ibu  dapat menular kepada anak yang dikandungnya. Lalu, air susu ibu (ASI) yang diberikan kepada sang bayi, juga memiliki peranan yang sangat penting sebagai zat yang mempengaruhi imunitas dan kecerdasan otak anaknya nanti. Bahkan berpengaruh terhadap jiwa dan kepribadian anaknya kelak.

 Pendeknya, apa pun yang dilakukan ibu akan berpengaruh terhadap anaknya. Bahkan kontak mata yang terjadi antara ibu dan anak  berpengaruh besar terhadap proses pendidikan anaknya di kemudian hari. Dengan demikian, proses pendidikan sudah melekat dalam pribadi seorang ibu  ketika mengasuh anak-anaknya.

Setiap saat, di manapun dan kapanpun proses pendidikan antara ibu dan anaknya dapat berlangsung. Itulah sebabnya seorang ibu memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, prestatif, edukatif, dan produktif.

 Adakah mimpi indah untuk anak-anak itu akan terwujud jika tidak dididik oleh tangan-tangan dan jiwa-jiwa yang halus seorang ibu? Tidak! Ibu adalah guru terbaik untuk anak-anaknya sejak bayi. Bahkan sejak dalam kandungan.  Tak akan ada anak-anak yang baik jika alpa didikan ibu yang baik. Tak akan ada manusia dewasa yang baik, tanpa guru sejati yang baik. Guru sejati itu adalah ibu.

 Itulah sebabnya Allah menempatkan ibu dalam posisi yang amat mulia. “Surga berada di bawah telapak kaki ibu,” sabda Rasul. Itu identik dengan: pendidikan pun berada di bawah telapak kaki ibu. Gambaran itu menunjukkan, betapa mulianya ibu, sang guru sejati itu.

Di Hari Guru, 25 November ini, mari kita sadari bahwa pendidikan bukan tanggungjawab guru semata. Tapi tanggung jawab pribadi kita. Tanggungjawab keluarga kita. Tanggungjawab masyarakat kita. Dan tanggungjawab negara kita. Kita semua bertanggungjawap terhadap pendidikan anak-anak kita. Pendidikan generasi masa depan bangsa dan negara kita.

Tanggal: 26 November 2017

Sumber: https://www.inspirasi.co/104/38987_siapakah-guru-terbaik-itu