Awas…Sarjana Menganggur Terus Meningkat

Written by Fat Haryanto. Posted in Liputan Media

INDOPOS.CO.ID – Peran penting pendidikan di dunia kampus untuk membangun Indonesia semakin tidak signifikan. Pasalnya, jumlah pengangguran yang memiliki ijazah sarjana di Indonesia terus meningkat tajam. Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Macan Yusuf mengatakan, ada fenomena yang semakin mengkhawatirkan terkait ketersediaan lapangan kerja di Indonesia. Terlebih memasuki tahun ajaran baru yang secara otomatis terdapat lulusan baru. Saat ini, semakin banyak sarjana yang menganggur.

Politisi Partai Demokrat itu menguraikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran lulusan universitas pada 2016 meningkat dari 5,34 persen menjadi 6,22 persen dan saat ini kemungkinan bisa mencapai 40 persen. Indikasinya yakni, banyak sarjana yang terpaksa menjadi sopir ojek demi menyambung hidup.

"Memang tidak salah menjadi sopir ojek karena itu profesi halal. Tapi, itu tidak meniadakan keharusan pemerintah menepati janji membuka 10 juta lapangan pekerjaan," ujarnya kepada INDOPOS.

Dia pun mengingatkan, pemerintah terkait janjinya untuk menghadirkan 10 juta lapangan kerja di Indonesia. Yaitu, lapangan pekerjaan untuk rakyat Indonesia sendiri dan bukan lapangan pekerjaan untuk rakyat negara lain. Pemeirntah tidak menilai sepele isu tenaga kerja asing (TKA) ilegal. Pasalnya, hal itu menimbulkan keresahan dan berpotensi memicu gejolak setidaknya selama 2016.

Dede menyambut, baik langkah pemerintah membentuk satuan tugas TKA sebagaimana rekomendasi panitia kerja TKA yang dibentuk Komisi IX DPR. Namun sulitnya mendapatkan pekerjaan merupakan persoalan mendasar saat ini. Menurut data BPS 2016, penduduk yang bekerja di sektor pertanian turun dari 40,12 juta orang menjadi 38,29 juta orang begitu pula penduduk yang bekerja di sektor industri juga mengalami penurunan dari 16,38 juta orang menjadi 15,97 juta orang. Artinya, sektor pertanian dan industri tidak mampu lagi menyerap para pengangguran. 

"Ini bahaya, karena mestinya pengangguran bisa terserap di kedua sektor ini,’’ tandasnya.

Diamini Anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengatakan, walaupun Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menerbitkan Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), namun kementerian-kementerian selaku penanggungjawab pelaksana regulasi itu jangan salah mentafsirkan Perpres Nomor 87 tahun 2017 tersebut. Sehingga harus segera direalisasikan.

Menurutnya, jika pejabat di pemerintahan salah menafsirkan peraturan tersebut, maka akan berakibat menimbulkan keresahan di masyarakat. "Jangan sampai kemudian Kementerian salah mempersepsikan sehingga keluar lagi permen (peraturan menteri, red) yang menimbulkan keresahan lagi, itu yang tidak kami harapkan," ujarnya kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, kemarin.

Reni mengungkapkan, terkait penguatan pendidikan karakter bukanlah hanya persoalan durasi jam belajar di sekolah, melainkan bagaimana pendidikan karakter untuk anak juga harus ditanamkan di rumah. "Sekolah itu kan bagian terkecil, fungsi anak itu sebetulnya ada di rumah," kata Reni.

Ketua Fraksi PPP DPR RI itu mengingatkan, peran keluarga yang paling penting dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak. "Jangan sampai sekolah lima hari dengan lamanya pendidikan sekolah, justru malah mengurangi aspek yang paling penting keluarga dalam pendidikan karakter. Padahal, postur penanaman karakter itu adanya di rumah. Kebebasan anak berekspresi kan adanya di rumah. Keutuhan anak adanya di rumah bukan di sekolah," pungkasnya.

Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo membenarkan. Menurut politisi Partai Golkar itu, perguruan tinggi harus terus didorong berinovasi dalam mengembangkan pendidikan. Tujuannya, agar perguruan tinggi mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pria yang akrab disapa Bamsoet itu mengatakan, perkembangan teknologi informasi kini sudah sangat cepat. Pengembangan pendidikan tinggi melalui sistem online pun menjadi keniscayaan. 

“Penting untuk mengantisipasi perkembangan zaman dan memanfaatkan kemajuan teknologi agar masyarakat memperoleh pendidikan perguruan tinggi dengan murah dan efisien. Tidak diperlukan lagi biaya indekos yang tinggi dan biaya transportasi yang mahal,” ujar Bamsoet, kemarin.

Maka itu, sambung Bamsoet, pola pendidikan berbasis IT dan online dinilai harus lebih digalakkan. Sehingga, semua masyarakat Indonesia bisa melek teknologi dan mengakses pendidikan dari mana saja. "Pola pendidikan era milenial di Indonesia harus terus ditingkatkan lagi. Pendidikan zaman now harus mengarah kepada pola pendidikan berbasis IT dan online,” kata Bamsoet.

Lebih lanjut, dia mengatakan, warga desa bisa menimba ilmu tanpa harus ke kota dengan sistem online itu. “Bayangan saya, nantinya anak-anak petani bisa menimba ilmu melalui gadget yang dimiliki, sembari menggarap sawah atau menggembala sapi," tuturnya. 

Dia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Perguruan tinggi, lanjut dia, harus menjadi salah satu benteng dalam merencanakan tatanan bangsa ke depan. “Dari sinilah kelak dihasilkan ekonom, dokter, dosen, ahli hukum, budayawan, politisi, dan lain sebagainya," pungkas Legislator asal daerah pemilihan Jawa Tengah VII itu.

Bamsoet juga menaruh keyakinannya, semakin banyak sarjana yang kreatif, inovatif dan visioner akan mempercepat perwujudan Indonesia menjadi negara maju, makmur dan berkeadilan. "Saat para sarjana terjun ke masyarakat, disanalah laboratorium kehidupan sesungguhnya. Saya yakin bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama di perguruan tinggi akan menjadi modal utama dalam menekuni pekerjaan dan profesi sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara," paparnya.

Bamsoet menegaskan, fungsi dan peran perguruan tinggi di Indonesia merupakan sentra pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal inilah yang membuat bangsa Indonesia sangat berharap pada lembaga-lembaga pendidikan tinggi untuk dapat melahirkan generasi yang terampil dan mandiri.

"Perguruan tinggi merupakan tempat menggelorakan semangat kuat untuk mengembangkan jati diri calon pemimpin bangsa dan menimba ilmu pengetahuan. Seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang tentang Pendidikan Tinggi, fungsi dan peran perguruan tinggi sebagai wadah pembelajaran mahasiswa dan masyarakat," tutur Bamsoet.

Terpisah, Direktur Tim.Work, Caca Samhudi mengatakan, persaingan lulusan sarjana saat ini semakin ketat. Sekitar 6,2 persen pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Apalagi, saat ini diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini akan memperkuat persaingan dalam dunia kerja.

Menurut Caca, pencari kerja dan pengangguran harus melengkapi kemampuannya dengan kompetensi kerja. Sehingga, bisa lebih mudah menentukan lapangan pekerjaan sesuai bakat, minat dan keinginannya. "Lulusan sarjana itu rata-rata siap ke dunia kerja tapi kami ingin me-refresh lagi," katanya. 

Pencari kerja lulusan sarjana, kata dia, sebenarnya sudah tahu bagaimana berkomunikasi, memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan ahlak. Kalau mereka mengikuti sharing, maka akan ada nilai tambah. "Sharing session ini kami gelar agar bisa berbagi karena Tim.Work memiliki pengalaman bekerja di bidang training," imbuhnya.  

Caca berharap, setelah berbagi pengalaman, ilmu dan tips bagaimana memasuki dunia kerja, maka semua calon pencari kerja bisa lebih percaya diri saat menghadapi wawancara kerja. Karena, di kampus biasanya mereka akan mendapatkan teori, sementara di tataran praktis bisa berpraktik langsung.  "Wawancara kerja memang selalu begitu setiap tahunnya, tapi ada hal-hal kekinian yang terkadang harus diinformasikan," ucapnya.

Caca mencontohkan, sekarang banyak perusahaan yang melihat calon pekerja dari media sosial (medsos). Dari medsos tersebut, akan terlihat apakah pelamar tersebut memiliki kreativitas dan inovasi atau tidak. (aen)

Tanggal: 17 April 2018

Sumber: https://www.indopos.co.id/read/2018/04/17/134971/awassarjana-menganggur-terus-meningkat