POLITIK||ARTIKEL

Panik Politik Penutupan Sekolah

Written by Fat Haryanto. Posted in Politik

Keberhasilan Presiden Erdogan menggagalkan kudeta, diikuti dengan ‘pembersihan’ terhadap para pemberontak. Selain ribuan tentara, pemerintahan Erdogan menangkapi hakim, jaksa, polisi, dosen, serta jurnalis. Dari sekitar 60 ribu orang yang dipecat atau ditahan pasca-kudeta, sebagian besar merupakan pegawai pada kementerian pendidikan.

Pemerintah Erdogan menuduh dalang di balik kudeta adalah mantan sahabatnya yaitu Fethullah Gulen dan para pengikutnya atau yang sekarang disebut FETO (Fethullah Terrorist Organisation).  Fethullah Gulen yang pernah mendukung Erdogan mempunyai organisasi yang dikenal dengan nama Hizmet organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, agama, ekonomi dan lain-lain.

Selain Hizmet, ada juga lembaga yang terkait dengan Gulen yaitu Gulen Chair. Lembaga ini bekerja sama dengan penerbit di Indonesia untuk menerbitkan buku-buku karya Gulen. Lembaga lain, yang mempunyai afiliasi dengan Gulen adalah PASIAD (Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association). Lembaga ini bekerja sama dengan beberapa yayasan di Indonesia mendirikan sejumlah lembaga pendidikan yang dikenal dengan sekolah Indonesia-Turki.

Sebagai sesama negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam, hubungan Turki dan Indonesia mempunyai hubungan yang sangat baik. Sebelum membahas permintaan pemerintah Turki ada baiknya penulis memberikan penjelasan hubungan kerjasama ekonomi, militer serta pendidikan juga terbilang sangat baik Indonesia dengan Turki.

Hubungan Indonesia-Turki

Jakarta sebagai Ibukota Indonesia dan Istanbul sebagai Ibukota Turki mempunyai hubungan khusus yang terkenal dengan kerja sama sister city yang telah dirintis sejak tahun 2007. Pemerintahan kedua negara menginginkan untuk meningkatkan kerjasama, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.

Di bidang pendidikan, Turki akan membangun suatu model sekolah yang lain dari pendidikan formal biasa. Selain itu, Pemerintah Turki menawarkan 66 beasiswa strata-1 dan pascasarjana bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang ingin belajar ke negara itu sebagai wujud upaya meningkatkan hubungan kedua negara yang telah berjalan baik. Sedangkan di bidang kesehatan, mereka membicarakan pembangunan rumah sakit yang akan menjadi kerja sama Jakarta-Istanbul. (www.kompasiana.com)

Selain hubungan pendidikan dan kesehatan, Indonesia dan Turki mempunyai hubungan perdagangan yang juga cukup baik. Untuk lebih meningkatkan nilai perdagangan kedua negara, maka Indonesia dan Turki membentuk Sidang Komisi Bersama Indonesia-Turki (SKBIT) bidang ekonomi. Selain pelaksanaan SKBIT, Indonesia dan Turki melalui kedua menlu membahas Indonesia-Turkey Comprehensive Trade Economic Partnership Agreement (IT-CTEPA). Pada Desember 2015, delegasi Indonesia dan Turki menggelar pertemuan pertama TOR IT-CTEPA. (www.m.tempo.co)

Turki merupakan mitra strategis Indonesia. Menurut sumber Kemerindag.go.id. nilai perdagangan Indonesia dan Turki baru mencapai US $ 2 Miliar pada tahun 2011 dan ditargetkan mencapai US $ 5 Miliar pada tahun 2015, yang merupakan ketujuh terbesar di Eropa Barat. Sedangkan jumlah investasi Turki di Indonesia mencapai US$ 3,9 juta pada 2015.

Selanjutnya dalam hal wisata, menurut sumber kemenlu, KBRI di Ankara akan mengintensifkan kunjungan misi seni budaya, memperluas promosi pariwisata Indonesia dan mendorong kerja sama dengan industri travel Turki. Selama 2007, Indonesia mendapat kunjungan 2.441 wisatawan Turki.Sejauh ini, jumlah wisatawan Turki ke Indonesia mencapai 6.000 orang pada 2014. Adapun jumlah wisatawan Indonesia ke Turki tercatat sekitar 58 ribu orang pada 2014. Karena itu untuk meningkatkan kerja sama perlu adanya penerbangan langsung Turki-Kualalumpur (Malaysia)-Jakarta-Denpasar untuk meningkatkan turisme dan angkutan penumpang, kargo dari Indonesia-Turki dan Turki-Indonesia.

Selain kerjasama di atas, seperti diberitakan militerindonesia.net, Indonesia dan Turki tengah mengadakan kerjasama startegis dalam bidang militer. Seperti dikatakan Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia dan Turki akan segera mewujudkan kerjasama industri peralatan militer dan industri pembuatan kapal-kapal kecil. Kerjasama dalam bidang militer yaitu pembuatan prototype medium tank yang dijadwalkan akan selesai pada tahun 2017 dan siap untuk menjalani serangkaian uji coba sebelum di produksi massal.

Pengembangan medium tank ini sendiri adalah kerjasama antara Indonesia dan Turki yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2014 yang lalu. Kedua negara bersepakat untuk mengembangkan medium tank baru yang sesuai dengan kebutuhan kedua negara. Dalam pengembangan medium tank ini dari awal, masing-masing negara diwakili oleh industry pertahanan masing-masing. Indonesia diwakili oleh PT Pindad Indonesia, sedangkan Turki sendiri diwakili oleh perusahaan industry pertahanannya yaitu FNSS Turki.

Dipilihnya Turki sebagai partner Indonesia dalam mengembangkan medium tank ini bukan tanpa alasan. Hal ini didasari fakta bahwa Turki termasuk negara yang sudah berpengalaman cukup panjang dalam mengembangkan tank untuk memenuhi alutsista mereka. Pengalaman Turki akan sangat berharga bagi industry pertahanan Indonesia.

Dua unit prototype direncanakan akan dibangun, dimana satu unit akan dibangun di PT Pindad Indonesia dan satu unit di FNSS-Turki. Selanjutnya kedua prototype ini akan di ujicoba lebih lanjut untuk menyempurnakan design-nya sebelum di produksi massal. PT Pindad sendiri diharapkan akan mampu mandiri untuk memproduksi medium tank ini untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI AD dimasa mendatang.

Penutupan Sekolah

Dalam rangka melakukan ‘pembersihan’ terhadap para pelaku kudeta, yang diduga masuk dalam jaringan Gulen, maka pemerintah Erdogan memukul rata apapun dan siapapun yang terkait dengan Gulen harus dibersihkan. Tak terkecuali sekolah-sekolah, baik di dalam negeri maupun  di luar negeri Turki, yang pernah bekerjasama dengan PASIAD harus ditutup.

Karenanya pemerintah Turki, melalui kedutaannya meminta pemerintah Indonesia untuk menutup sekolah-sekolah yang mempunyai kerja sama dengan jaringan Gulen melalui lembaga PASIAD. Dalam suratnya pemerintah Turki mengatakan Turki dan Indonesia secara tradisional telah menikmati hubungan persahabatan berdasarkan kedekatan sejarah dan budaya. Sebagai mitra strategis, Turki berharap dan mengandalkan dukungan dari warga Indonesia dan Pemerintah Indonesia dalam perjuangan kami melawan organisasi teroris FETO. Beberapa negara lain yang telah mengikuti permintaan Turki adalah, Jordania, Azerbaijan, Somalia, dan Niger.

Bagi pemerintah Indonesia permintaan pemerintah Turki yang sedang melakukan ‘pembersihan’ sulit untuk dipenuhi. Dalam pandangan penulis, permintaan tersebut terbilang berlebihan dan tidak cermat.

Ada beberapa alasan bagi penulis mengapa permintaan tersebut berlebihan; pertama, sekolah-sekolah tersebut didirikan berdasarkan yayasan-yayasan yang secara sah mendapat legalitas dari pemerintah Republik Indonesia. Demikian juga dengan izin membuka sekolah berdasarkan izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kedua, kerjasama yang dilakukan oleh sekolah atau yayasan tersebut dengan PASIAD atas izin kedua pemerintah baik Turki maupun Indonesia. Dengan demikian, kerjasama tersebut merupakan kerjasama yang sah diketahui oleh pemerintah masing-masing. Selain itu, kerjasama tersebut juga sudah berakhir sejak 1 November 2015.

Selama bekerjasama dengan PASIAD, sekolah-sekolah tersebut beberapa kali mendapatkan kunjungan kehormatan dari para petinggi Pemerintah Turki misalnya, Perdana Menteri Turki, Recep Tayip Erdoğan ke Banda Aceh pada tahun 2005 setelah peristiwa Tsunami. Selain itu,Kunjungan kehormatan Presiden Turki, Abdullah Gül pada tahun 2011 ke Sekolah Kharisma Bangsa dan kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri Turki, Bülent Arınç pada tanggal 10 Desember 2011 juga ke Sekolah Kharisma Bangsa.

Ketiga, mereka yang terlibat dalam proses belajar dan mengajar di sekolah atau yayasan tersebut, sampai saat ini belum ada bukti keterlibatan mereka dalam kudeta tersebut. Sikap pemerintah Turki untuk menutup semua sekolah yang pernah bekerjasama dengan PASIAD lebih disebab kepanikan politik sesaat. Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang wajar ketika terjadi gonjang-ganjing politik.

Keempat, hal yang sangat fundamental yaitu terkait dengan kedaulatan pendidikan bangsa ini. Kedaulatan pendidikan bangsa ini tidak bisa didikte oleh bangsa manapun.
Kelima, ribuan siswa dan siswi Indonesia yang belajar disekolah-sekolah tersebut tak mungkin dipindahkan ke sekolah lain. Selain prosedurnya tidak mudah, begitu juga siswa dan siswi harus kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Hal ini sangat mengganggu kegiatan belajar dan mengajar. Selain itu, ratusan tenaga kependidikan juga otomatis bakal kehilangan pekerjaan.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka pemerintah Indonesia sebaiknya menolak permintaan pemerintah Turki tersebut, sebagaimana alasan-alasan yang disebutkan di atas. Selain itu, respek terhadap kedaulatan masing-masing negara harus tetap dijunjung tinggi, sehingga tidak terkesan satu negara merasa lebih dominan dibandingkan dengan negara lainnya. [***]

 

Dr. Hj. Reni Marlinawati
Anggota DPR RI, Ketua Fraksi PPP 2014-2019

Sumber: http://www.rmol.co/read/2016/08/04/255684/Panik-Politik-Penutupan-Sekolah-