10 Hikmah Puasa Ramadhan

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

Ketika bulan ramadhan seperti ini kita selalu berpikir apa hikmah yang kita dapat setelah berjuang puasa seharian. berikut adalah 10 hikmah puasa ramadhan :
  1. Bulan Ramadhan bulan melatih diri untuk disiplin waktu. Dalam tiga puluh hari kita dilatih disiplin bagai tentara, waktu bangun kita bangun, waktu makan kita makan, waktu menahan kita sholat, waktu berbuka kita berbuka, waktu sholat tarawih, iktikaf, baca qur'an kita lakukan sesuai waktunya. Bukankah itu disiplin waktu namanya? Ya kita dilatih dengan sangat disiplin, kecuali orang tidak mau ikut latihan ini.
  2. Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk seimbang dalam hidup. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah, dan amal-amal sunat. Artinya kita menahan diri atas satu pekerjaan yang monoton dan lalai beribadah kepadaNya. Orang yang lalai atas mengingat Allah, selalu asyik dengan pekerjaannya, sehingga waktu istirahat siang, sholat, dan makan sering terabaikan. Atau waktu yang seharusnya dipakai untuk beribadah kepada Allah dipakai untuk makan siang bersama kekasih. Sholat? tinggal. Di bulan Ramadhan kita diajarka hidup seimbang, antara pekerjaan, dan Ibadah. Pekerjaan untuk kepentingan dunia dan Ibadah untuk kepentingan Akhirat.
  3. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan Manusia akan pentingnya arti persaudaraan, dan silaturahmi. Di keluarga orang yang tidak mengerti akan arti persaudaraan. Persaudaraan di keluarga tidak begitu akrab, adik beradik bertengkar, Ibu dan Ayah kadang saling tidak memperhatikan. Persaudaraan dari Gang Jalanan, banyak juga perkelahiannya. Persaudaraan atas satu kelompok, satu bangsa, satu tanah air, hanya selogan dan nama, kurang sekali mendapat makna. Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid. Semuanya didapat gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkrama saling menanyakan kabar. Sama-sama sholat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Qur'an, dan banyak makanan sedekah di Masjid. Ya tentunya Gratis. Persaudaraan sesama muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus, ada ayat qur'an tentang persaudaraan, ada banyak hadits nabi, tetapi jarang diperhatikan orang betapa pentingnya arti persaudaraan itu. Tetapi dibulan Ramadha ia akan tampak dengan sendirinya.
  4. Bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada orang lain yang lemah. Di bulan Ramadhan kita puasa, merasaka lapar dan dahaga, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang terlantar, anak yatim yang tiada orang tuanya, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak. Apakah kita tidak merasa prihatin? Sehingga kita peduli untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan. Baik karena kondisi ekonomi, atau disebabkan bencana Alam. Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta Agama. Juga Allah mengataka orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
  5. Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan. Di bulan puasa kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, menetapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tuajuan puasa adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.
  6. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah.
  7. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Dibulan Ramadhan kita berpuasa. Kita menahan Lapar dan dahaga. Bukan itu saja. Tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga di dalam bulan Ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Latihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.
  8. Bulan Ramadhan melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan rintangan. Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa. Dengan Sabar hasutan Syeitan untuk memperuncing konflik menjadi gagal. Kitalah pemenangnya dari godaan Syeitan tersebut. Masalah orang menggunjing, memfitnah, biarlah itu jadi dosa-dosanya, janganlah kita ikut berdosa dengan dosa orang lain.
  9. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana. Setiap hari kita membeli kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari sekian banya kue dan minuman yang kita beli. Hanya minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lain banyak tertinggal dan sebagian terbuang keesokan harinya. Hal ini menyadarkan kita, bahwa apa yang kita beli banyak-banyak sebelum berbuka, hanyalah hawa nafsu saja. Kebutuhan kita hanyalah segelas teh manis! Mengapa kita harus membeli banyak-banyak minuman dan kue-kue yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkan.
  10. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan pentingnya rasa syukur kita, atas nikmat-nikmat yang diberikan pada kita. Rasa syukur kita akan adanya nikmat makanan yang telah kita punyai terasa ketika kita puasa. Kita merasakan lapar, tetapi kita masih mempunyai makanan. Bagaimana dengan orang yang merasakan lapar tetapi bukan karena ia juga puasa, tetapi karena memang tidak punya makanan? Kita sakit, kita dapat makan obat ketika buka, tetapi bagaimana dengan orang yang tidak punya obat, ketika ia sakit? Kita enak, ketika kita puasa merasa lapar dan haus, kita lengahkan dengan menonton televisi atau hal-hal lain seperti internet. Bagaimana dengan orang ketika ia lapa dan haus mereka lengahkan lapar dan hausnya dengan bekerja memenuhi tuntutan majikannya? Bukan karena memang tidak punya televisi atau internet, tetapi karena tuntutan hidup, yang mengharuskan ia bekerja untuk makan hari ini dan hari ketika ia tidak bekerja. Tidakkah harusnya kita bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan pada kita?

Sumber: http://ooobegituyach.blogspot.co.id/2013/07/10-hikmah-puasa-ramadhan.html

Siasat Iblis Mengganggu Orang Puasa

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

Allah SWT telah memerintahkan seorang malaikat untuk menemui Iblis agar dia menghadap Rasulullah SAW untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya.

Maka malaikat pun menjumpai iblis dan berkata,
"Wahai iblis, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah agar engkau menghadap Rasulullah SAW. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu, engkau jawab dengan sebenar-benarnya dan apapun yang ditanya Rasulullah. Jika engkau berdusta walau hnaya satu perkataan, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras."

Mendengar ucapan malaikat yang dahsyat itu, iblis sangat ketakutan.
Maka segeralah dia menghadap Nabi Muhammad SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih sepuluh helai, panjangnya seperti ekor lembu.

Pengakuan Iblis.
Iblis pun memberi salam.
Namun sampai tiga kali tidak juga dijawab oleh Nabi.
"Ya Rasulullah SAW, mengapa engkau tidak menjawab salamku, bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?" kata iblis.
"Hai seteru Allah, kenapa engkau menunjukkan kebaikanmu, janganlah engkau mencoba menipuku, sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s. Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah, hanya saja aku diharamkan Allah membalas salammu," ujar Rasulullah SAW dengan meyakinkan.
"Ya Rasulullah SAW, janganlah engkau marah. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu tipu dayaku terhadap umatmu," aku iblis kepada Nabi.

Beberapa saat kemudian Rasulullah SAW mengajukan beberapa pertanyaan.
Nabi berkata,
"Jika umatku berpuasa karena Allah SWT, bagaimana keadaanmu?"
Mendengar pertanyaan itu, tubuh iblis ketakutan.
Kemudian ia menjawab,
"Ya Rasulullah, inilah bencana yang paling besar bahayanya untukku," jawab iblis.
"Apa maksudmu?" tanya Rasulullah SAW.
"Apabila masuk bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy. Bagi orang yang berpuasa, Allah SWT akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar, serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa," jawab iblis.
"Lantas apa yang kau resahkan?" tanya Nabi SAW.
"Yang menghancurkan hatiku adalah malaikat dan semua isi alam yang siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa," jawab iblis lagi.

Sasaran Iblis dalam Bulan Puasa.
"Jika memang demikian, apa yang akan engkau lakukan kepada umatku?" tanya Rasulullah SAW.
"Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama adalah ulama yang memberi nasehat kepada manusia.Yang kedua, umat Anda yang sabar, syukur, dan ridha dengan karunia Allah SWT,"ujar iblis.
"Lalu siapakah yang ketiga dari umatku itu?" tanya Nabi SAW.
"Yang ketiga dari umatmu seperti Fir'aun. Terlampau sombong dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka aku pun bersuka cita. Kemudian aku masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke mana saja sesuai kehendakku. AKu membuat dia senang kepada dunia, umatmu yang ketiga itu akan melupakan ibadah, tidak mengeluarkan zakat," kata iblis.

"Lalu apa siasatmu dalam mengganggu golongan umatku yang ketiga itu?" tanya Nabi SAW.
"Aku menggodanya agar minta kaya dulu, setelah kaya ia akan sombong dan lupa beramal. Jika demikian, umatmu itu akan saling berebut harta, saling benci dan menghina kepada yang miskin. Jika demikian, tinggal menunggu kehancurannya," jelasiblis.

Setelah mengerti akan tipu daya iblis itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar menjalankan ibadah puasa dengan penuh harap dan ridha kepada Allah SWT. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang benar-benar ikhlas dan tulus dalam berpuasa.

Terakhir,
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan Saudara Saudariku yang seiman.

Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.co.id/2011/08/siasat-iblis-mengganggu-orang-puasa.html

Hikayat Puasa di Bulan Ramadhan

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

REPUBLIKA.CO.ID, Secara bahasa, puasa berasal dari bahasa Arab, Shaum (jamaknya Shiyam) yang bermakna al-Imsak (menahan). Sedangkan menurut istilah, puasa itu menahan makan dan minum serta semua yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Ulama terkemuka  Syekh Wahbah az-Zuhaili mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari segala keinginan syahwat, perut serta faraj (kemaluan) dan dari segala sesuatu yang  masuk ke kerongkongan, baik berupa makanan, minuman, obat, dan semacamnya, pada waktu tertentu  -- mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut Syekh az-Zuhaili, puasa dilakukan oleh Muslim yang berakal, tidak haid dan juga tidak nifas dengan melakukannya secara yakin. Setiap Muslim yang beriman diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Perintah berpuasa telah ditegaskan dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 183.

Perintah berpuasa Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW mulai turun pada 10 Syaban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Madinah. ‘’Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmakdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi,’’ tulis Ensiklopedi Islam.

Puasa Ramadhan dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan tersebut. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tak dapat dilihat dan disaksikan, maka bulan Syaban disempurnakan menjadi 30 hari. 

Kewajiban puasa sebulan penuh pada Ramadhan baru dimulai pada tahun kedua Hijriah. Itu artinya, umat Nabi Muhammad SAW secara turun temurun telah melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan selama 1.431 kali. Tahun ini, Ramadhan memasuki tahun 1433 H. Lalu apakah ada kewajiban puasa bagi umat Rasulullah, sebelum puasa Ramadhan?

Sebelum turunnya ayat yang memerintahkan puasa wajib di bulan Ramadhan, menurut H Sismono dalam Puasa pada Umat-Umat Dulu dan Sekarang, pada mulanya kaum Muslimin memandang puasa Asyura (10 Muharam) sebagai hari puasa wajib mereka. Keyakinan tersebut mungkin mengacu kepada puasa yang dilaksanakan umat Yahudi pada Hari Raya Yom Kippur yang jatuh pada tanggal 10 bulan Tishri.

Hari Asyura merupakan hari raya terbesar umat Yahudi, dan hingga saat ini masih dirayakan oleh orang-orang Yahudi Khaibar (dekat Madinah). Mereka yang melaksanakan puasa pada hari itu, akan mengenakan pakaian yang serba indah, berbelanja makanan, minuman, dan lain sebagainya.

Imam Syafii pernah mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan, ‘’Sangat disukai berpuasa tiga hari, yakni hari kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas Muharam.’’ Imam Hanafi juga berkata, ‘’Tak ada yang salah dalam urusan hari Asyura, selain berpuasa pada hari itu saja. Orang-orang Rawafidh mengada-adakan bid’ah kesedihan pada itu; orang-orang jahil Suni mengada-adakan bid'ah kesukaan.''

Menurut riwayat lain, sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan, Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya serta kaum Muslimin, melaksanakan puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Qomariyah. Selain itu, mereka juga biasa berpuasa tanggal 10 Muharam, sampai datang perintah puasa wajib di bulan Ramadhan.

Berdasarkan penjelasan di atas, tampaklah bahwa puasa Asyura tak ada hubungannya dengan peringatan wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang biasa diperingati oleh penganut Syiah. Namun demikian, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia, ada yang rutin melaksanakan puasa Asyura.

Rasulullah pun terbiasa berpuasa pada hari Asyura. Bahkan,  Rasul SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk juga berpuasa pada hari itu. Menurut Ibnu Umar RA, Rasulullah pernah berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh dia (Ibnu Umar) untuk berpuasa juga. Namun, saat datang perintah puasa Ramadhan, maka puasa Asyura itu ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.

Tentang perintah Rasulullah untuk berpuasa Asyura, menurut Bukhari, Ahmad dan Muslim adalah sesudah beliau tiba di Yatsrib (Madinah). Tepatnya, sekitar setahun setelah Rasul SAW dan sahabat-sahabatnya tinggal di Madinah. Menurut riwayat, Rasul SAW tiba di kota itu pada Rabiul Awal. Sedangkan perintah puasa Asyura itu disampaikan pada awal tahun kedua.

Kemudian, pada tahun kedua hijrah saat memasuki bulan Ramadhan, turunlah wahyu yang berisi perintah kepada umat Islam akan diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan. Dan puasa Asyura hanya satu kali dilaksanakan sebagai puasa wajib.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/shaum-ala-rasulullah-saw/12/07/23/m7l05s-hikayat-puasa-di-bulan-ramadhan

Puasa – Taat Perintah Allah Atau Mengharap Pahala

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

Sebelum saya menikah, saya tinggal di rumah seorang haji. Walau saya hanya kost di sana dan agama kami berbeda, tetapi kami mempunyai hubungan baik. Saya sangat senang bila Ramadhan tiba. Suasana di rumah berbeda dengan bulan-bulan biasanya. Setiap sore ibu kost memasak berbagai makanan untuk berbuka. Kadang juga saya ikut membantu menyediakannya.

Walau saya bukan seorang Muslim, tetapi di bulan Ramadhan kadang saya juga ikut berpuasa. Tentunya sesuai dengan ajaran kepercayaan saya.

Perintah Puasa di Al-Quran

Mengapa orang Islam wajib puasa di bulan Ramadhan? Inilah ayatnya, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Qs 2:183).

Bila ayat di atas kita baca dengan teliti, maka timbul pertanyaan. Siapakah sebenarnya yang berbicara pada ayat tersebut? Benarkah Allah mewajibkan umat Muslim, Yahudi, dan Nasrani untuk berpuasa? “...sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu...” (Qs 2:183). Bukankah puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi umat Muslim?

Puasa Kristen dan Islam Berbeda

Umat Muslim sering berkata, orang Kristen bukan pengikut sejati Nabi Isa sebab mereka tidak berpuasa. Jelas hal ini salah! Tentang berpuasa, Islam dan Kristen mempunyai ajaran yang berbeda. Di antaranya:

Pertama: Umat Kristen tidak pernah diwajibkan berpuasa seperti yang diajarkan Muhammad. Tidak ada puasa-wajib dalam ajaran Isa, yang dilaksanakan dengan ritual tertentu. Bila dilaksanakan mendapat pahala berlimpah dan jika dilalaikan berdosa.

Tujuan orang Kristen berpuasa adalah mencari wajah dan belas kasih Tuhan. Juga karena adanya kerinduan untuk mempunyai hubungan yang lebih intim dengan Sang Pencipta.

Kedua: Puasa dalam Islam sepertinya hanya “memindahkan jam makan” dari pagi-sore menjadi sore-subuh. Kwalitas dan kwantitas makan-minum ketika puasa juga jauh lebih tinggi dibanding hari-hari biasa.

Dalam ajaran Kristen, puasa meliputi siang dan malam. Bahkan kadang berjalan beberapa hari tanpa makan.

Ketiga: Islam ketika puasa lebih menonjolkan aktivitas lahiriah, atau ibadah jasadiyyah. Yaitu aktivitas berkorban dengan cara meninggalkan, membatasi, dan menjauhi nafsu kedagingan. Harapannya agar mendapat ridho dan pahala dari Allah.

Puasa Kristiani pada dasarnya berakar dari “suasana perkabungan”, jeritan atau keprihatinan yang sangat serius. Pelaksana harus mencari tangan dan wajah Tuhan dalam kerendahan hati yang sangat dalam.

Tujuan Muslim Berpuasa

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, tujuan umat Muslim berpuasa agar mendapat ridho dan pahala dari Allah. Selain itu, secara tidak langsung juga menuntut penghormatan atas dirinya dari orang lain serta lingkungannya.

Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kasus pemukulan dan penganiayaan yang terjadi di bulan Ramadhan, terhadap “orang kafir” yang kebetulan makan-minum disekitarnya. Alasannya, “orang kafir” tersebut telah melecehkan dirinya yang sedang berpuasa. Kedai-kedai makan dan restoran “dihimbau” (bahkan diwajibkan) untuk tutup atau setidaknya setengah tertutup.

Tujuan Kristen Berpuasa

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Kitab Nabi Nehemia 1:4).

Menurut Alkitab, tujuan pengikut Isa berpuasa adalah merendahkan diri, mencari wajah Tuhan dan membangun satu hubungan khusus dengan-Nya.

Puasa Pengikut Isa Tidak Boleh Diketahui Orang Lain

Inilah sebabnya mengapa orang Islam tidak pernah tahu bahwa sebenarnya orang Kristen juga berpuasa. Pengikut Isa yang sedang berpuasa tidak memerlukan perlakuan istimewa, yaitu dengan menjauhkan setiap makanan-minuman dari hadapanya. Ia juga tidak menganiaya orang yang sedang makan dihadapannya karena tidak menghargai dia yang sedang puasa. Puasa adalah hubungan rohani dengan Allah. Cukup Allah saja yang mengetahuinya!

“Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. . . . . ." (Injil, Rasul Besar Matius 6:17-18).

Apakah Tujuan Anda Berpuasa?

Demikianlah tujuan orang Kristen berpuasa. Yaitu mendekatkan diri pada Sang Khalik. Bukan untuk mendapat pahala berlimpah agar layak masuk sorga. Sebab, seseorang yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat, telah menerima 'jaminan' keselamatan sorgawi dari-Nya.

Kitab Suci berkata, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Isa Al-Masih], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).

[Staff Isa dan Islam – Kiranya di bulan Ramadhan ini saudara akan mendapat anugerah Keselamatan dalam Isa Al-Masih. Terdapat artikel lain mengenai puasa, yaitu “Dicambuk Karena Berjualan Makanan di Bulan Ramadhan”.]

Sumber: http://linetlambodoor.indonetwork.co.id/product/engsel-lambo-door-pintu-gunting-5470400

Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu: Ksatria yang Tanggap lagi Cerdik

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

Sesungguhnya Allah menanam untuk agama ini tanaman yang dengannya Dia memuliakan Islam di setiap zaman dan tempat.

Di antara orang-orang yang dengannya Allah menjadikan mereka bermanfaat bagi Islam adalah ksatria kita yang tanggap lagi cerdik ini, orang yang Allah anugerahi kecepatan dalam berfikir [spontanitas] dan amat cerdik.

Sesungguhnya ia adalah Nu’aim bin Mas’ud yang di masa jahiliyah memiliki hubungan yang sangat erat dengan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dan selain mereka.

Ia biasa duduk-duduk di majelis mereka, begadang dan minum-minum bersama mereka. Sementara mereka juga sangat mencintainya dan memberikan kepercayaan penuh kepadanya.

Di waktu yang tepat sesuai dengan waktu yang Allah ta’ala takdirkan, Dia membuka pintu hati Nu’aim untuk menerima hidayah dan dien yang haq ini. Dengan begitu, Nu’aim memulai lembaran baru di hari perang Ahzab, dan mampu menggoreskan di atas kening sejarah lembaran yang tidak akan pernah dilupakan selamanya sepanjang hari dan sepanjang malam.

Sesungguhnya ia adalah lembaran yang cemerlang lagi bersinar. Allah menjadikannya sebagai sebab diselamatkannya seluruh umat terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

APA YANG TELAH ENGKAU PERSEMBAHKAN UNTUK DIENULLAH?

Mari merenung bersama saya wahai saudaraku yang mulia, bagaimana. Nu’aim bin Mas’ud mampu menjadi sebab dikeluarkannya [dibubarkannya] sejumlah besar orang-orang yang telah terkonsentrasi untuk menghancurkan Islam dalam perang Ahzab.

Tanyakan kepada diri anda dengan pertanyaan ini, “Apa yang telah engkau persembahkan untuk dienullah?”

Inilah Nu’aim bin Mas’ud, seorang fida-i (pelaku aksi pengorbanan diri) dan ksatria datang kepada Nabi di waktu yang demikian genting dan mencekam di mana hampir membuat jantung-jantung copot dari dada-dada pada perang Ahzab.

Kaum musyrikin telah mengepung kota Madinah dari seluruh penjuru di sekitar parit, sementara di saat-saat yang genting lagi menegangkan ini, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mereka berubah menjadi ancaman serius dari dalam yang amat berbahaya terhadap kaum wanita dan anak-anak. Mereka telah mengikat janji dengan kaum musyrikin untuk bersama-sama memerangi Muhammad. Inilah tingkah polah orang-orang Yahudi, dan inilah sifat mereka. Orang-orang Yahudi tidaklah pandai selain berkhianat dan membatalkan perjanjian.

Mereka membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di saat yang genting.

Dapat anda bayangkan bagaimana kondisi psikis yang menghinggapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala telah menyebutnya dengan sifat yang demikian menyentuh dan detail.

Dia berfirman:

“… Dan ketika penglihatan (kalian) terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.’” (QS. Al-Alizaab: 10-12)

Bayangkanlah kondisi tersebut! Sungguh saat itu sudah ada yang berani berkata di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.” Kaum musyrikin mengepung kita sementara orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian dan akan menghancurkan kita dari dalam serta membunuh kaum wanita dan anak-anak kita!

Kondisi yang menegangkan. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sampai berdiri seraya bersimpuh ke hadapan Allah Ta’ala:

“Ya Allah, yang menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat perhitungannya, hancurkanlah ahzab (kelompok-kelompok itu). Ya Allah, hancurkanlah dan guncangkanlah mereka.”[1]

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya berada dalam kondisi takut dan tegang sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Karena demonstrasi yang ditunjukkan musuh terhadap kaum muslimin dan datangnya mereka untuk menyerang dari bagian atas dan bagian bawah [dari atas bukit maupun lembah], datanglah Nu’aim bin Mas’ud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam, dan kaumku belum mengetahui keislamanku. Karena itu, perankan aku sesuai keinginanmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau di tengah kami adalah satu orang saja, maka hinakanlah musuh itu dari kami sedapat mungkin, karena perang adalah tipu daya.”

Lalu Nua’im bin Mas’ud pun berangkat hingga mendatangi Bani Quraizhah. Dulu di masa jahiliyah, ia adalah teman bagi mereka. Maka ia berkata, “Wahai Bani Quraizhah, kalian telah mengetahui rasa cintaku terhadap kalian, khususnya apa yang terjadi antara aku dan kalian.” Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.” Lalu ia berkata lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan tidaklah seperti kalian. Negeri ini (Madinah) adalah negeri kalian, di dalamnya ada harta, anak-anak dan isteri-isteri di mana kalian tidak mampu berpindah darinya kepada yang lain. Dan sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan telah datang untuk memerangi Muhammad dan para Sahabatnya. Kalian telah mendukung mereka melawannya, sedangkan negeri, harta dan istri-istri mereka berada di negeri selainnya (di Makkah, bukan di Madinah-penj). Mereka tidaklah seperti kalian; jika melihat kesempatan, pasti mereka akan memanfaatkannya, dan jika melihat selain itu, mereka akan pergi ke negeri mereka dan membiarkan kalian dan laki-laki itu (Muhammad,) di negeri kalian. Jika laki-laki itu sendirian melawan kalian, niscaya kalian tidak akan mampu melawannya. Karena itu, janganlah berperang bersama kaum itu hingga kalian menjadikan salah seorang tokoh mereka sebagai jaminan sehingga kalian menjadi percaya bahwa kalian berperang melawan Muhammad bersama mereka hingga kalian dapat mengalahkannya.” Mereka berkata kepadanya, “Engkau telah memberikan pendapat yang tepat.”

Kemudian ia (Nu’aim) pergi dari sisi mereka hingga mendatangi kaum Quraisy. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy yang hadir bersamanya: “Kalian telah mengenal betapa aku mencintai kalian dan memusuhi Muhammad. Sesungguhnya telah sampai kepadaku satu masalah yang menurut pendapatku sudah sewajibnya aku menyampaikannya kepada kalian sebagai nasehat untuk kalian. Karena itu rahasiakanlah hal ini dariku.”

Mereka berkata, “Akan kami lakukan.”

Ia berkata, “Tentu kalian sudah tahu bahwa orang-orang Yahudi menyesali apa yang telah mereka perbuat terhadap perjanjian mereka dengan Muhammad, dan mereka telah mengirimkan surat dengan menyatakan, ‘Kami telah menyesali apa yang telah kami lakukan. Apakah kalian setuju apabila kami mengambil untuk kalian para tokoh terkemuka dari kedua suku; Quraisy dan Gathfan, lalu kami menyerahkan mereka kepada kalian, lalu kami memenggal leher mereka, kemudian kami bersama orang-orang yang hidup di antara mereka akan bersama kalian hingga kita dapat melawan mereka semua?’ Lalu dia (Muhammad) mengirimkan surat lagi kepada mereka dengan jawaban, ‘Ya, kami setuju.” Lalu Nu’aim melanjutkan, “Jika .orang-orang Yahudi [Bani Quraizhah] mengirim utusan kepada kalian untuk meminta beberapa jaminan dari orang-orang kalian, maka janganlah kalian menyerahkan seorang pun kepada mereka.”

Kemudian ia pergi lagi hingga mendatangi suku Ghathfan. Ia berkata: “Wahai orang-orang Ghathfan, sesungguhnya kalian adalah keluarga dan margaku serta manusia yang paling aku cintai. Aku tidak melihat kalian menuduhku (curiga terhadapku).”

Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.”

la berkata, “Simpanlah rahasia ini dariku.”

Mereka berkata, “Kami akan lakukan. Apa gerangan masalahmu?” Lalu ia mengatakan kepada mereka seperti apa yang telah dikatakannya kepada Quraisy, dan memperingatkan dengan apa yang ia peringatkan kepada mereka.

Merupakan suatu tadbir (pengaturan) dari Allah kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin untuk mengeluarkan mereka dari cobaan itu di mana Abu Sufyan dan pimpinan suku Ghathfan mengirim utusan kepada Bani Quraizhah. Utusan itu adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahal beserta perwakilan dari Quraisy dan Ghathfan. Hal itu terjadi pada malam Sabtu, bulan Syawwal tahun 5 H. Maka mereka (Bani Quraizhah) berkata kepada mereka (para utusan), “Sesungguhnya kami tidak berada di tempat tinggal [bukan di negeri kami sendiri], unta-unta dan kuda-kuda telah binasa. Maka pergilah berperang hingga kita dapat melawan Muhammad dan menyelesaikan masalah antara kita dan dirinya! Mereka menjawab dengan mengatakan, “Sesungguhnya hari ini adalah hari Sabtu, Ini adalah hari di mana kami tidak melakukan sesuatu pun. Sebagian orang kami telah melakukan suatu perbuatan terlarang, lalu mereka mengalami apa yang sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi kalian. Sekalipun demikian, kami bukanlah orang-orang yang akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan dari para tokoh kalian yang berada di tangan kami sebagai jaminan kepercayaan bagi kami hingga kita melawan Muhammad. Sebab sesungguhnya kami khawatir jika perang menewaskan kalian dan pertempuran demikian berat bagi kalian, kemudian kalian kembali dengan cepat ke negeri kalian dan meninggalkan kami sementara orang itu (yakni, Muhammad) berada di negeri kami di mana kami tidak mampu melawannya.”

Setelah para utusan kembali kepada Quraisy dan Ghathfan membawa apa yang dikatakan Bani Quraizhah, berkatalah mereka (Quraisy dan Ghathfan), “Demi Allah, sesungguhnya apa yang dikatakan Nua’im bin Mas’ud kepada kalian itu memang benar. Maka kirimlah utusan kepada Bani Quraizhah dengan pernyataan, ‘Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan seorang pun dari para tokoh kami kepada kalian. Jika kalian ingin berperang, maka keluarlah, lalu berperanglah!’”

Maka tatkala utusan itu sampai, Bani Quraizhah membalas, “Sesungguhnya apa yang diceritakan Nu’aim tentang kalian memang benar. Orang-orang itu hanya ingin berperang; jika melihat ada kesempatan, mereka akan memanfaatkannya. Dan jika mendapatkan selain itu, mereka akan kembali dengan cepat ke negeri mereka dan membiarkan kami sementara orang itu (Muhammad berada di negeri kami.” Lalu mereka mengirim utusan kepada Quraisy dan Ghathfan dengan mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan.” Namun mereka menolaknya.

Akhirnya, Allah Ta’ala menurunkan kehinaan di tengah sesama mereka. Mereka akhirnya tidak memiliki kemauan untuk berperang. Lalu Allah mengirimkan kepada mereka angin kencang di malam-malam musim dingin yang teramat sangat. Angin itu menerbangkan periuk-periuk mereka dan memporak-porandakan perkemahan mereka.[2]

Setelah hari itu, Nu’aim bin Mas’ud terus menjadi orang yang dipercaya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyerahkan kepadanya beberapa pekerjaan, mengajaknya bangkit mengatasi segala beban dan membawa sejumlah panji di hadapannya.

Di hari penaklukan kota Makkah, Abu Sufyan bin Harb berdiri menyaksikan pasukan kaum muslimin, lalu ia melihat seorang laki-laki yang membawa panji Ghathfan. Maka ia berkata kepada orang yang bersamanya, “Siapa ini?”

Mereka menjawab, “Itu adalah Nu’aim bin Mas’ud.”

Ia berkata, “Sungguh buruk apa yang diperbuatnya terhadap kita di hari Khandaq. Dahulu ia termasuk orang yang paling bermusuhan terhadap Muhammad, sekarang ia membawa panji kaumnya di depannya dan berlalu untuk memerangi kita di bawah panjinya.”[3]

Nu’aim benar-benar antusias dan bersemangat dalam membayar lunas setiap kesempatan yang sudah lewat (tali usianya semasa masih musyrik untuk kemudian menggantinya dengan beberapa hari, beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dalam ketaatan kepada Allah dan bekerja untuk menolong agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya.

Ia masih terus dengan kebiasaannya itu hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dan ia pun sangat sedih atas hal itu, bahkan sempat ia berangan-angan ,untuk menebus Nabi dengan jiwa, harta dan seluruh apa yang ia miliki.

Sepeninggal Nabi, Nu’aim bin Mas’ud tidak pernah bakhil menyumbangkan tenaga, harta dan jiwanya dalam mengabdi kepada lslam. Ia senantiasa melanjutkan perjalanan sumbangsih dan kerja kerasnya dalam mengabdi kepada agama yang agung ini sepanjang masa Khilafah Rasyidah di bawah pimpinan Abu Bakar. Demikian juga sepanjang masa kekhilafahan ‘Umar dan ‘Utsman Hingga datanglah saat yang menentukan di mana ia akan bertemu dengan Rabb-nya yang memberikan balasan kepadanya atas setiap apa yang telah ia lakukan dalam mengabdi kepada Islam dan mengobati lukanya di dalam Surga-Nya dan pelabuhan rahmat-Nya, di mana di sana terdapat kenikmatan yang abadi. Juga untuk dapat berdampingan  dengan al-Habib dan para Sahabatnya di Surga ar-Rahman dengan bersaudara di atas dipan-dipan yang saling berhadap-hadapan. Kemudian kenikmatan menjadi sempurna dengan nikmat memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Nu’aim terbunuh di awal kekhilafahan ‘Ali sebelum datang ke Bashrah dalam peristiwa perang Jamal. Ada yang mengatakan, ia wafat pada masa kekhilafahan ‘Utsman . Wallaahu a’lam.[4]

Semoga Allah Ta’ala meridhai Nu’aim bin Mas’ud dan para Sahabat seluruhnya.

Note:

[1] HR.Bukhari VI/109-110, Kitab Al-Maghaazi dan HR.Muslim No.1742, Kitab Al Jihaad

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d [II/69] dan ath-Thabari dalain Tarikhnya [III/ 578-579], serta Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wan Nihaayah [IV/III], juga Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari [VII/402].

[3] Shuwar min Hayaatish Shahabah, DR. ‘Abdurrahman Ra’fat al-Basya (hal. 423).

[4] Al-Ishaabah karya Ibnu Hajar [VI/363]

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net