Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu: Ksatria yang Tanggap lagi Cerdik

Written by Rahmat Putra. Posted in Agama

Sesungguhnya Allah menanam untuk agama ini tanaman yang dengannya Dia memuliakan Islam di setiap zaman dan tempat.

Di antara orang-orang yang dengannya Allah menjadikan mereka bermanfaat bagi Islam adalah ksatria kita yang tanggap lagi cerdik ini, orang yang Allah anugerahi kecepatan dalam berfikir [spontanitas] dan amat cerdik.

Sesungguhnya ia adalah Nu’aim bin Mas’ud yang di masa jahiliyah memiliki hubungan yang sangat erat dengan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dan selain mereka.

Ia biasa duduk-duduk di majelis mereka, begadang dan minum-minum bersama mereka. Sementara mereka juga sangat mencintainya dan memberikan kepercayaan penuh kepadanya.

Di waktu yang tepat sesuai dengan waktu yang Allah ta’ala takdirkan, Dia membuka pintu hati Nu’aim untuk menerima hidayah dan dien yang haq ini. Dengan begitu, Nu’aim memulai lembaran baru di hari perang Ahzab, dan mampu menggoreskan di atas kening sejarah lembaran yang tidak akan pernah dilupakan selamanya sepanjang hari dan sepanjang malam.

Sesungguhnya ia adalah lembaran yang cemerlang lagi bersinar. Allah menjadikannya sebagai sebab diselamatkannya seluruh umat terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

APA YANG TELAH ENGKAU PERSEMBAHKAN UNTUK DIENULLAH?

Mari merenung bersama saya wahai saudaraku yang mulia, bagaimana. Nu’aim bin Mas’ud mampu menjadi sebab dikeluarkannya [dibubarkannya] sejumlah besar orang-orang yang telah terkonsentrasi untuk menghancurkan Islam dalam perang Ahzab.

Tanyakan kepada diri anda dengan pertanyaan ini, “Apa yang telah engkau persembahkan untuk dienullah?”

Inilah Nu’aim bin Mas’ud, seorang fida-i (pelaku aksi pengorbanan diri) dan ksatria datang kepada Nabi di waktu yang demikian genting dan mencekam di mana hampir membuat jantung-jantung copot dari dada-dada pada perang Ahzab.

Kaum musyrikin telah mengepung kota Madinah dari seluruh penjuru di sekitar parit, sementara di saat-saat yang genting lagi menegangkan ini, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mereka berubah menjadi ancaman serius dari dalam yang amat berbahaya terhadap kaum wanita dan anak-anak. Mereka telah mengikat janji dengan kaum musyrikin untuk bersama-sama memerangi Muhammad. Inilah tingkah polah orang-orang Yahudi, dan inilah sifat mereka. Orang-orang Yahudi tidaklah pandai selain berkhianat dan membatalkan perjanjian.

Mereka membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di saat yang genting.

Dapat anda bayangkan bagaimana kondisi psikis yang menghinggapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala telah menyebutnya dengan sifat yang demikian menyentuh dan detail.

Dia berfirman:

“… Dan ketika penglihatan (kalian) terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.’” (QS. Al-Alizaab: 10-12)

Bayangkanlah kondisi tersebut! Sungguh saat itu sudah ada yang berani berkata di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.” Kaum musyrikin mengepung kita sementara orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian dan akan menghancurkan kita dari dalam serta membunuh kaum wanita dan anak-anak kita!

Kondisi yang menegangkan. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sampai berdiri seraya bersimpuh ke hadapan Allah Ta’ala:

“Ya Allah, yang menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat perhitungannya, hancurkanlah ahzab (kelompok-kelompok itu). Ya Allah, hancurkanlah dan guncangkanlah mereka.”[1]

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya berada dalam kondisi takut dan tegang sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Karena demonstrasi yang ditunjukkan musuh terhadap kaum muslimin dan datangnya mereka untuk menyerang dari bagian atas dan bagian bawah [dari atas bukit maupun lembah], datanglah Nu’aim bin Mas’ud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam, dan kaumku belum mengetahui keislamanku. Karena itu, perankan aku sesuai keinginanmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau di tengah kami adalah satu orang saja, maka hinakanlah musuh itu dari kami sedapat mungkin, karena perang adalah tipu daya.”

Lalu Nua’im bin Mas’ud pun berangkat hingga mendatangi Bani Quraizhah. Dulu di masa jahiliyah, ia adalah teman bagi mereka. Maka ia berkata, “Wahai Bani Quraizhah, kalian telah mengetahui rasa cintaku terhadap kalian, khususnya apa yang terjadi antara aku dan kalian.” Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.” Lalu ia berkata lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan tidaklah seperti kalian. Negeri ini (Madinah) adalah negeri kalian, di dalamnya ada harta, anak-anak dan isteri-isteri di mana kalian tidak mampu berpindah darinya kepada yang lain. Dan sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan telah datang untuk memerangi Muhammad dan para Sahabatnya. Kalian telah mendukung mereka melawannya, sedangkan negeri, harta dan istri-istri mereka berada di negeri selainnya (di Makkah, bukan di Madinah-penj). Mereka tidaklah seperti kalian; jika melihat kesempatan, pasti mereka akan memanfaatkannya, dan jika melihat selain itu, mereka akan pergi ke negeri mereka dan membiarkan kalian dan laki-laki itu (Muhammad,) di negeri kalian. Jika laki-laki itu sendirian melawan kalian, niscaya kalian tidak akan mampu melawannya. Karena itu, janganlah berperang bersama kaum itu hingga kalian menjadikan salah seorang tokoh mereka sebagai jaminan sehingga kalian menjadi percaya bahwa kalian berperang melawan Muhammad bersama mereka hingga kalian dapat mengalahkannya.” Mereka berkata kepadanya, “Engkau telah memberikan pendapat yang tepat.”

Kemudian ia (Nu’aim) pergi dari sisi mereka hingga mendatangi kaum Quraisy. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy yang hadir bersamanya: “Kalian telah mengenal betapa aku mencintai kalian dan memusuhi Muhammad. Sesungguhnya telah sampai kepadaku satu masalah yang menurut pendapatku sudah sewajibnya aku menyampaikannya kepada kalian sebagai nasehat untuk kalian. Karena itu rahasiakanlah hal ini dariku.”

Mereka berkata, “Akan kami lakukan.”

Ia berkata, “Tentu kalian sudah tahu bahwa orang-orang Yahudi menyesali apa yang telah mereka perbuat terhadap perjanjian mereka dengan Muhammad, dan mereka telah mengirimkan surat dengan menyatakan, ‘Kami telah menyesali apa yang telah kami lakukan. Apakah kalian setuju apabila kami mengambil untuk kalian para tokoh terkemuka dari kedua suku; Quraisy dan Gathfan, lalu kami menyerahkan mereka kepada kalian, lalu kami memenggal leher mereka, kemudian kami bersama orang-orang yang hidup di antara mereka akan bersama kalian hingga kita dapat melawan mereka semua?’ Lalu dia (Muhammad) mengirimkan surat lagi kepada mereka dengan jawaban, ‘Ya, kami setuju.” Lalu Nu’aim melanjutkan, “Jika .orang-orang Yahudi [Bani Quraizhah] mengirim utusan kepada kalian untuk meminta beberapa jaminan dari orang-orang kalian, maka janganlah kalian menyerahkan seorang pun kepada mereka.”

Kemudian ia pergi lagi hingga mendatangi suku Ghathfan. Ia berkata: “Wahai orang-orang Ghathfan, sesungguhnya kalian adalah keluarga dan margaku serta manusia yang paling aku cintai. Aku tidak melihat kalian menuduhku (curiga terhadapku).”

Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.”

la berkata, “Simpanlah rahasia ini dariku.”

Mereka berkata, “Kami akan lakukan. Apa gerangan masalahmu?” Lalu ia mengatakan kepada mereka seperti apa yang telah dikatakannya kepada Quraisy, dan memperingatkan dengan apa yang ia peringatkan kepada mereka.

Merupakan suatu tadbir (pengaturan) dari Allah kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin untuk mengeluarkan mereka dari cobaan itu di mana Abu Sufyan dan pimpinan suku Ghathfan mengirim utusan kepada Bani Quraizhah. Utusan itu adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahal beserta perwakilan dari Quraisy dan Ghathfan. Hal itu terjadi pada malam Sabtu, bulan Syawwal tahun 5 H. Maka mereka (Bani Quraizhah) berkata kepada mereka (para utusan), “Sesungguhnya kami tidak berada di tempat tinggal [bukan di negeri kami sendiri], unta-unta dan kuda-kuda telah binasa. Maka pergilah berperang hingga kita dapat melawan Muhammad dan menyelesaikan masalah antara kita dan dirinya! Mereka menjawab dengan mengatakan, “Sesungguhnya hari ini adalah hari Sabtu, Ini adalah hari di mana kami tidak melakukan sesuatu pun. Sebagian orang kami telah melakukan suatu perbuatan terlarang, lalu mereka mengalami apa yang sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi kalian. Sekalipun demikian, kami bukanlah orang-orang yang akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan dari para tokoh kalian yang berada di tangan kami sebagai jaminan kepercayaan bagi kami hingga kita melawan Muhammad. Sebab sesungguhnya kami khawatir jika perang menewaskan kalian dan pertempuran demikian berat bagi kalian, kemudian kalian kembali dengan cepat ke negeri kalian dan meninggalkan kami sementara orang itu (yakni, Muhammad) berada di negeri kami di mana kami tidak mampu melawannya.”

Setelah para utusan kembali kepada Quraisy dan Ghathfan membawa apa yang dikatakan Bani Quraizhah, berkatalah mereka (Quraisy dan Ghathfan), “Demi Allah, sesungguhnya apa yang dikatakan Nua’im bin Mas’ud kepada kalian itu memang benar. Maka kirimlah utusan kepada Bani Quraizhah dengan pernyataan, ‘Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan seorang pun dari para tokoh kami kepada kalian. Jika kalian ingin berperang, maka keluarlah, lalu berperanglah!’”

Maka tatkala utusan itu sampai, Bani Quraizhah membalas, “Sesungguhnya apa yang diceritakan Nu’aim tentang kalian memang benar. Orang-orang itu hanya ingin berperang; jika melihat ada kesempatan, mereka akan memanfaatkannya. Dan jika mendapatkan selain itu, mereka akan kembali dengan cepat ke negeri mereka dan membiarkan kami sementara orang itu (Muhammad berada di negeri kami.” Lalu mereka mengirim utusan kepada Quraisy dan Ghathfan dengan mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan.” Namun mereka menolaknya.

Akhirnya, Allah Ta’ala menurunkan kehinaan di tengah sesama mereka. Mereka akhirnya tidak memiliki kemauan untuk berperang. Lalu Allah mengirimkan kepada mereka angin kencang di malam-malam musim dingin yang teramat sangat. Angin itu menerbangkan periuk-periuk mereka dan memporak-porandakan perkemahan mereka.[2]

Setelah hari itu, Nu’aim bin Mas’ud terus menjadi orang yang dipercaya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyerahkan kepadanya beberapa pekerjaan, mengajaknya bangkit mengatasi segala beban dan membawa sejumlah panji di hadapannya.

Di hari penaklukan kota Makkah, Abu Sufyan bin Harb berdiri menyaksikan pasukan kaum muslimin, lalu ia melihat seorang laki-laki yang membawa panji Ghathfan. Maka ia berkata kepada orang yang bersamanya, “Siapa ini?”

Mereka menjawab, “Itu adalah Nu’aim bin Mas’ud.”

Ia berkata, “Sungguh buruk apa yang diperbuatnya terhadap kita di hari Khandaq. Dahulu ia termasuk orang yang paling bermusuhan terhadap Muhammad, sekarang ia membawa panji kaumnya di depannya dan berlalu untuk memerangi kita di bawah panjinya.”[3]

Nu’aim benar-benar antusias dan bersemangat dalam membayar lunas setiap kesempatan yang sudah lewat (tali usianya semasa masih musyrik untuk kemudian menggantinya dengan beberapa hari, beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dalam ketaatan kepada Allah dan bekerja untuk menolong agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya.

Ia masih terus dengan kebiasaannya itu hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dan ia pun sangat sedih atas hal itu, bahkan sempat ia berangan-angan ,untuk menebus Nabi dengan jiwa, harta dan seluruh apa yang ia miliki.

Sepeninggal Nabi, Nu’aim bin Mas’ud tidak pernah bakhil menyumbangkan tenaga, harta dan jiwanya dalam mengabdi kepada lslam. Ia senantiasa melanjutkan perjalanan sumbangsih dan kerja kerasnya dalam mengabdi kepada agama yang agung ini sepanjang masa Khilafah Rasyidah di bawah pimpinan Abu Bakar. Demikian juga sepanjang masa kekhilafahan ‘Umar dan ‘Utsman Hingga datanglah saat yang menentukan di mana ia akan bertemu dengan Rabb-nya yang memberikan balasan kepadanya atas setiap apa yang telah ia lakukan dalam mengabdi kepada Islam dan mengobati lukanya di dalam Surga-Nya dan pelabuhan rahmat-Nya, di mana di sana terdapat kenikmatan yang abadi. Juga untuk dapat berdampingan  dengan al-Habib dan para Sahabatnya di Surga ar-Rahman dengan bersaudara di atas dipan-dipan yang saling berhadap-hadapan. Kemudian kenikmatan menjadi sempurna dengan nikmat memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Nu’aim terbunuh di awal kekhilafahan ‘Ali sebelum datang ke Bashrah dalam peristiwa perang Jamal. Ada yang mengatakan, ia wafat pada masa kekhilafahan ‘Utsman . Wallaahu a’lam.[4]

Semoga Allah Ta’ala meridhai Nu’aim bin Mas’ud dan para Sahabat seluruhnya.

Note:

[1] HR.Bukhari VI/109-110, Kitab Al-Maghaazi dan HR.Muslim No.1742, Kitab Al Jihaad

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d [II/69] dan ath-Thabari dalain Tarikhnya [III/ 578-579], serta Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wan Nihaayah [IV/III], juga Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari [VII/402].

[3] Shuwar min Hayaatish Shahabah, DR. ‘Abdurrahman Ra’fat al-Basya (hal. 423).

[4] Al-Ishaabah karya Ibnu Hajar [VI/363]

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net