Membaca Ulang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Written by Fat Haryanto. Posted in Politik

DALAM bulan-bulan terakhir, suhu politik Indonesia khususnya di Jakarta menjadi memanas. Demi mengalahkan kelompok Islam, kalangan anti Islam menuduh kelompok Islam sebagai anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terkesan kuat kelompok anti Islam menuduh secara tidak langsung kelompok Islam adalah yang anti NKRI. Asumsi ini tentu saja jauh panggang dari api. Ini adalah pandangan yang bisa mengelabui bagi generasi muda yang tidak mau menengok sejarahnya. NKRI yang kita nikmati adalah buah karya dari jerih payah dari salah satu tokoh besar Islam Indonesia, yaitu M. Natsir, Ketua Umum Partai Politik Islam Masyumi, dan Ketua Persatuan Islam sekaligus pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
 
 

Mengapa M. Natsir? M. Natsir ditonjolkan tidak bermaksud mengabaikan peran tokoh lain. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dicetuskan pada 17 Agustus 1945, tidak serta merta menjadikan Indonesia merdeka. Kemerdekaan baru diakui dunia pada 1950, setelah Mesir --sebagai negara pertama--mengakui kemerdekaan Indonesia. Negara yang baru saja diproklamasikan seakan tenggelam dan menghilang dengan adanya agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947 dan pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta. Pada masa revolusi, melalui berbagai perjanjian dan tipu muslihat Belanda,Indonesia diciptakan untuk menjadi negara boneka Belanda.

Negara kesatuan yang lahir seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 seakan hilang,bersamaan dengan munculnya Republik Indonesia Serikat (RIS), buah rekayasa Belanda. Hanya tinggal hitungan waktu saja, Indonesia akan benar-benar menjadi negara boneka selamanya, andaikan saja tak muncul gagasan brilian berupa Mosi Integral, yang dapat menyelamatkan Indonesia, dari seorang Natsir.

Gagasan Mosi Integral

Penelitian Murjoko (2004),menunjukkan paling tidak ada empat peristiwa,mengapa M. Natsir mengajukan Mosi Integral.Gagasan tersebut, berkaitan dengan sejumlah peristiwa saling berkaitan satu sama lain yang saling mempengaruhi dalam mewujudkan NKRI. Adapun ke 4 peristiwa penting tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, susunan negara Indonesia pertama kali adalah Negara Kesatuan. Susunan Negara Indonesia yang pertama kali diproklamasikan  pada 17 Agustus 1945 adalah merupakan Negara Kesatuan. Hal ini dapat terlihat dalam pasal 1 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan. Sebagaimana disampaikan oleh M.Natsir dalam pidato pada sidang Konstituante II tahun 1957, "alasan historis bahwa susunan negara Indonesia yang pertama kali diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah Negara Kesatuan".

Kedua,strategi menghadapi politik “devide et impera” Belanda. Faktor berikutnya yang dapat mendorong M. Natsir mengajukan Mosi Integral di Parlemen RIS adalah untuk menghadapi strategi Belanda yang telah berhasil mendirikan negara RIS atau federal. Terbentuknya RIS bukan sebuah kebetulan, namun telah direncanakan oleh Belanda sejak jauh- jauh hari sebelumnya. Melalui berbagai perjanjian diantaranya pertama, Konferensi Maliono I dan II,kedua, perjanjian Linggarjati, ketiga, perjanjian  Renvile dan yang keempat Konferensi Meja Bundar (KMB). Perjanjian-perjanjian tersebut di atas mempunyai kesamaan satu sama lainnya yakni merupakan upaya Belanda untuk memecah belah persatuan Indonesia.

Dalam perundingan KMB pada 29 Oktober 1949 konstitusi RIS disepakati dalam KMB. Dalam konstitusi RIS tersebut bentuk Negara Indonesia adalah Republik Indonesia Serikat(RIS) yang terdiri dari 16 negara bagian.
Ketiga, terjadinya gerakan separatis di berbagai daerah diantaranya  sebagai berikut: (1) Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada 23 Januari 1950 (2)pemberontakan kapten Belanda Westerling di Bandung dan Jakarta. (3) Pemberontakan Andi Azis cs pada 5 April 1950 di Makassar. (4) Peberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 26 April 1950 di Maluku.

Keempat, stabilitas pemerintahan yang tidak stabil. Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 sampai dengan munculnya Mosi Integral Natsir pada tahun 1950paling tidak ada 12 kali kabinet yang dibongkar pasang, termasuk di dalamnya kabinet Natsir.

Melihat kondisi negara kesatuan yang baru saja merdeka 'porak poranda' oleh gejolak baik internal maupun eksternal membuat M.Natsir dan juga pemimpin bangsa lainnya, merasa prihatin. Kuatnya pengaruh Belanda yang 'dilegalkan' melalui berbagai perjanjian membuat kekuataan bangsa menjadi terbelah. Sebagian setuju dengan bentuk RIS.Sebagian lagi tetap menginginkan negara kesatuan.

Kondisi ini memaksa seorang M.Natsir, dari Fraksi Masyumi harus bekerja keras melobi dan memberikan pencerahan kepada semua fraksi-fraksi yang ada di DPR RIS akan persoalan bangsa yang sangat memprihatinkan ini.Dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini, maka M.Natsir berkesimpulan bahwa perlu adanya penyelesaian secara menyeluruh atau integral dan terprogram dengan baik dalam upaya menyelesaikan persoalan bangsa waktu itu. Natsir mengusulkan perlunya integrasi antara RIS dan RI, namun usulan ini ditolak, karena kepala-kepala negara bagian yang dibentuk oleh Belanda keberatan untuk bergabung dengan Republik Indonesia (Yogyakarta), karena statusnya adalah sama-sama negara bagian menurut Konstitusi RIS.

Atas keberatan beberapa negara bagian tersebut, tidak membuat Natsir berputus asa. Menurut Murjoko, dalam tesisnya, kemudian M.Natsir mengajukan gagasan agar semua negara-negara bagian sama-sama mendirikan negara Kesatuan melalui prosedur parlementer. Adapun cara yang ditempuh adalah semua negara bagian sama-sama membentuk negara Kesatuan dengan jalan semua negara bagian harus membubarkan diri terlebih dahulu. Dan untuk menjawab keragu-raguan setelah semua negara-negara bagian membubarkan diri masing-masing, apakah negara Republik Indonesia masih tetap ada atau tidak ada. Maka M. Natsir dengan diplomatis mengatakan kita tidak perlu khawatir untuk membubarkan negara-negara bagian tersebut. Hal ini karena kita tidak meragukan mutu dan kepribadian tokoh Proklamator Republik Indonesia yakni Sukarno dan Mohammad Hatta akan tetap menjadi Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia nantinya.

Usul M.Natsir mendapatkan persetujuan dari fraksi-fraksi yang ada di DPR RIS. Sebagai bukti persetujuan berbagai fraksi memberikan dukungan tandatangan untuk diajukan dalam sidang Pleno DPR RIS pada 3 April 1950. Berbekal dukungan tersebut, M. Natsir mengajukan “Mosi Integral” tentang penyatuan kembali negara-negara bagian menjadi negara Republik Indonesia di Parlemen RIS.

Dari pemaparan di atas kita dapat melihat bahwa Mosi Integral Natsir merupakan proklamasi kemerdekaan kembali NKRI yang kedua. Sumbangsih yang tak ternilai harganya bagi bangsa ini, maka sudah sepantasnya para pemimpin bangsa, pihak kepolisian dan  kalangan militer, tidak melupakan jasa para ulama yang telah berkorban baik harta jiwa dan untuk bangsa ini. Perlakukanlah umat Islam sebagai tuan rumah bagi bangsanya sendiri. Sangat salah jika umat Islam dituduh sebagai kelompok yang anti NKRI, sebaliknya umat Islamlah yang mempertaruhkan segalanya bagi kelangsungan NKRI. Tidak ada yang lebih mencintai negeri ini kecuali umat Islam, sejarah telah membuktikannya. [***]

Penulis adalah ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di DPR RI

Tanggal: 23 Februari 2017

Sumber: http://politik.rmol.co/read/2017/02/23/281568/Membaca-Ulang-Negara-Kesatuan-Republik-Indonesia-(NKRI)-